Archive for the ‘Tips Keuangan’ Category

cara belajar menabung

cara belajar menabung

Hai teman – teman, apa kabar kamu dan keluarga hari ini? Semoga semua dalam keadaan sehat dan baik. Sekarang saya ingin mencoba memberikan informasi tentang cara belajar menabung dan trik – trik menabung.
Seperti yang kita ketahui bahwa menabung adalah BAIK, namun banyak diantara kita yang mengalami kesulitan dalam menabung. Saya dapat memahami karena banyaknya pengeluaran yang harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehingga tidak ada sisa yang dapat ditabung, bahkan dalam sebulan harus tekor karena penghasilan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Jika keadaan seperti demikian terus berlanjut, bagaimana dengan masa depan kamu dan keluarga??? Teman – teman, sebenarnya prinsip dasar menabung disini sangatlah mudah, bukan berapa besar yang dapat kamu hasilkan dalam sebulan melainkan seberapa besar yang dapat kamu simpan.

Sebelum kamu melanjutkan membaca, ada baiknya, kamu simak pertanyaan ini, BERAPA BESAR KAMU MAU MENCAPAI TUJUAN DAN IMPIAN KAMU? Jika kemauan dan keinginan kamu itu BESAR maka kamu pasti akan rela berkorban untuk mencapainya. Sebab di dunia ini tidak ada yang gratis dan segala sesuatu memerlukan uang namun perlu di ingat teman – teman bahwa uang bukanlah segala – galanya, sebab tidak semua hal dapat dibeli dengan uang.
Cara – cara menabung, sebagai berikut :
  1. Buatlah budget pengeluaran dan pemasukan dalam sebulan. Lakukan dengan penuh disiplin, patuh dan tanggung jawab dalam menjalankan pengeluaran bulanan.
  2. Lakukan analisa pengeluaran, dimana kamu dapat mengurangi pengeluaran – pengeluaran yang dianggap berlebihan, tidak terlalu penting atau mendesak. Di sini kamu harus bisa mengkategorikan kebutuhan hidup kamu. Lakukan pengeluaran berdasarkan kepentingannya, pertama kamu masukan untuk menabung lalu kamu urutkan berdasarkan kebutuhan yangmana tidak dipenuhi hidup kita akan terganggu seperti makan, tempat tinggal, listrik, PAM / air, pendidikan anak – anak, dan lain – lain. Pengkategorian semua terserah kamu, saya tidak dapat mengurutkan mana dulu yang lebih penting karena kondisi dan kebutuhan kita semua berbeda – beda.
  3. Hilangkan kebiasaan – kebiasaan hidup yang boros, yang menghambur – hamburkan uang, seperti contoh kecil adalah merokok.
  4. Jika penghasilan kamu tidak dapat ditentukan, seperti wirausaha, maka ada baiknya kamu menetapkan waktu untuk menabungnya. Dan untuk teman – teman yang mendapatkan penghasilan yang pasti tanggalnya di setiap bulan, usahakan untuk selalu menggunakan pertama kali penghasilan bulanan kamu itu untuk menabung dan sisanya baru kamu pakai untuk memenuh kebutuhan hidup.
  5. Lunasilah hutang – hutang kamu dengan secepatnya terutama hutang yang berbunga dan hentikan kebiasaan berhutang.
  6. Belajar untuk menghargai dan menabungkan uang kecil seperti uang pecahan Rp 500,- atau Rp 200,- atau Rp 100,- dengan cara menabung di celengan
  7. Pilih sarana menabung ini ditempat yang lebih aman dan baik. Aman dari tangan – tangan jail orang lain dan diri kita sendiri, dan baik tabungan kita tidak akan berkurang nilai uangnya. Contoh menabung di bank yangmana tidak ada biaya administrasinya serta kita tidak memakai kartu ATM nya.
  8. Setelah kamu bisa mulai bisa menabung maka kamu harus tetapkan hati kamu untuk terus menabung setiap bulannya, ingatlah selalu tujuan kamu menabung ini adalah untuk mencapai tujuan dan impian hidup kamu. Dan jadikan menabung ini menjadi kebiasaan hidup baru dalam hidup kamu.
  9. Jika telah ada kebiasaan untuk menabung telah ada dalam diri kamu, mulailah tingkatkan tabungan kamu di dalam setiap bulannya.
  10. Usahakan untuk menggunakan penghasilan tambahan kamu untuk sebagian besar di tabung.
  11. Setelah tabungan kamu sudah besar, jangan dulu dipakai untuk membeli barang – barang konsumer, gunakan dahulu tabungan kamu tersebut untuk investasi, kamu bisa melakukan investasi pada banyak bidang, baik secara aktif maupun pasif kamu lakukan.
  12. Jika kondisi keuangan kamu memungkinkan, usahakan untuk mengambil sebuah asuransi, saya sangat menyarankan untuk mengambil produk asuransi yang ada proteksi dan investasinya.
  13. Gunakan kartu kredit dengan bijak, karena kartu kredit juga banyak manfaatnya terutama jika dalam keadaan darurat, namun jangan pergunakan kartu kredit untuk belanja barang – barang konsumer sehingga hal ini akan menyebabkan kita berhutang.
Demikianlah trik – trik yang saya gunakan untuk menabung, saya sangat berharap informasi ini dapat berguna untuk teman – teman
sumber ; info rencana keuangan
Advertisements

Contoh gambar-gambar kusen dan daun jendela


Gambar-gambar diatas hanyalah contoh-contoh,kusen dan daun jendela yang sering kita jumpai di proyek-proyek perumahan,dan juga rumah pribadi.
Kalau anda mau membangun rumah,baik rumah untuk proyek ataupun perumahan buat pribadi….sekarang khusus untuk kusen dan daun pintu,tinggal pesan,atau istilahnya beli sudah,tinggal kita siapkan  gambar bestek serta ukuran yang pas,lalu kita berikan gambar tersebut kepada pengrajin kayu,khusunya tukang  kuzen,mereka banyak buka workshop di sekitar pinggiran kota-kota besar.

gambar-gambar diatas sebagian kami ambil dari mbah Google..kalau ada kesamaan atau serupa dengan gambar yang anda punya…mohon diiklaskan saja…gambar hanya untuk ilusrtasi belaka…terimakasih…

sumber : http://www.cibotproperty.com

Tips Utang

Tips Utang

assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hutang terkadang bisa membantu kita dalam kesulitan hidup, dan terkadang bisa merepotkan dan menjadi bumerang bagi kita sendiri. Berhutang boleh saja, tapi harus dikelola dengan baik. Bagaimana cara mengelolanya?

DEN

Simak tips di bawah ini

– Pergunakan hutang HANYA untuk keperluan mendadak saja dan juga kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Misalnya untuk biaya pengobatan atau biaya sekolah anak.

Sebaiknya prioritas berutang sesuai dengan urutan dengan tingkat keamanan yang paling baik yaitu orang tua, saudara, sahabat, pegadaian, bank, dan leasing.

Idealnya nilai hutang adalah 30% dari seluruh penghasilan Anda.

Hutang yang tepat adalah dengan membeli aset produktuid dan memiliki nilai yang terus meningkat. seperti tanah, rumah dan logam mulia. Hindari menggunakan hutang untuk membeli barang yang tidak tidak produktif dan memiliki nilai yang terus menurun, seperti handphone, barang elektronik dan mobil.

– Apabila anda tidak ingin meminjam uang atau berhutang. Anda bisa menjual aset atau menggadaikan barang berharga Anda.

Menyusun Budget Keuangan Keluarga

Apa itu Budgeting?

Buat Anda yang tidak terbiasa dengan istilah ekonomi atau akuntansi, kata budgeting untuk perencanaan keuangan keluarga terasa terlalu berlebihan. Bukankah budgeting itu diperlukan untuk perencanaan keuangan negara seperti penyusunan APBN? Atau minimal budgeting diperlukan oleh perusahaan untuk memprediksi untung dan rugi di tahun mendatang?

Benar, budget yang saya maksudkan kurang lebih seperti itu. Bedanya kali ini kita akan menyusun budget untuk keuangan keluarga. Secara sederhana budgeting adalah proses menyusun anggaran, baik dana yang masuk maupun yang keluar. Lebih spesifik lagi terkait perencanaan keuangan keluarga, budgeting adalah proses menyusun dan merencanakan berapa banyak pendapatan yang Anda hasilkan dalam periode waktu tertentu, dan berapa banyak pengeluaran yang akan dibelanjakan pada periode yang sama. Dengan melakukan budgeting, Anda dapat melihat apakah keuangan saat ini surplus, impas, atau minus. Berita baiknya adalah: dengan budgeting, setidaknya kondisi Anda dapat dipaksakan supaya minimal impas.

Persiapan Menyusun Budgeting

Apakah Anda sudah mulai melakukan pencatatan keuangan seperti yang saya jelaskan pada posting sebelumnya berjudul Kebiasaan Mencatat, Fondasi Dasar Perencanaan Keuangan. Jika ya, mari kita buka catatan tersebut. Perhatikan apa saja yang Anda beli selama beberapa bulan terakhir dan amati pola yang muncul. Apakah ada pola tertentu di sana? Jika ya, Anda sudah dengan mudah mengetahui apa saja jenis pengeluaran dan pemasukan yang secara rutin Anda lakukan.

Secara umum budgeting untuk keluarga terdiri dari pengeluaran sebagai berikut:

Hutang

Apakah Anda memiliki kredit rumah, kredit mobil, atau lainnya? Tentukan berapa banyak yang harus Anda keluarkan untuk masing-masing hutang tadi.

Zakat, Infak dan Sadaqah

Sebagai seorang yang taat beragama dan menginginkan kebersihan dalam harta. Keluarkanlah zakat, infak maupun sadaqah. Anda bisa menghitung apakah sudah termasuk wajib zakat atau tidak dan budgetkan. Jika tidak, dikhawatirkan bagian dari harta yang harusnya dikeluarkan sebagai zakat tersebut dapat termakan oleh Anda sehingga mengurangi keberkahannya.

Jika Anda juga seorang tulang punggung keluarga yang ikut membantu orangtua maupun keluarga lainnya, budgetkan pengeluaran untuk hal tersebut sehingga secara reguler Anda dapat membantu orang-orang yang Anda kasihi.

Selebihnya tergantung kemampuan dan kerelaan Anda untuk mengeluarkannya sebagai infak ataupun sadaqah.

Tabungan

Pos kedua setelah hutang adalah tabungan. Agar aman, budgetkan tabungan di awal dan anggap sebagai pengeluaran. Dengan demikian, Anda tidak akan merasa berat untuk melakukannya. Jangan menabung dari sisa anggaran yang tersedia karena besar kemungkinan tidak ada sisanya.

Termasuk tabungan di sini adalah sesuatu yang Anda persiapkan untuk masa depan seperti: tabungan pendidikan, dana darurat dan lainnya.

Konsumsi Rutin Bulanan

Bagian terakhir baru tetapkan untuk konsumsi rutin yang Anda keluarkan mulai dari biaya pendidikan, belanja rumah tangga, dan tagihan-tagihan lainnya. Konsumsi rutin ini bisa dibagi dalam beberapa kategori:

  • Pendidikan
    • Uang sekolah
    • Uang semester
  • Belanja rumah tangga
    • Beras xx kg
    • Gula
    • Minyak goreng
    • Lauk Pauk
  • Transportasi
    • Bensin
    • Service kendaraan
    • Tol dan Parkir
  • Tagihan
    • Listrik
    • Air
    • Telepon
    • Handphone
    • Internet
    • Iuran RT
  • Gaji Pembantu
  • Hiburan
    • Rekreasi
    • Makan di luar
    • Nonton

Konsumsi Rutin Tahunan

Nah, ini adalah bagian yang sering dilupakan orang. Anda harus menyisihkan dana untuk membayar jenis pengeluaran yang sifatnya enam bulanan, tahunan atau dua tahunan. Kelalaian dalam melakukan hal ini akan berakibat pada saat jatuh tempo Anda tidak memiliki dana yang cukup untuk membayarnya dan terpaksa mencari pinjaman ke sana sini.

Berikut beberapa jenis pengeluaran Rutin Tahunan yang biasa muncul:

  • Kontrak rumah Jika Anda mengontrak rumah, pastikan setiap bulan Anda mencicil sejumlah tertentu sehingga ketika tiba pembayaran periode berikutnya dana yang tersedia sudah cukup. Misal Anda membayar kontrakan setiap tahun sebesar 12 juta. Maka sisihkan 1 juta setiap bulannya.
  • Uang kuliah Jika Anda masih kuliah atau perlu membiayai anggota keluarga yang kuliah, biasanya pengeluaran jenis ini muncul setiap enam bulan. Jika biaya kuliah sebesar 3 juta, maka Anda harus menyisihkan 500.000 ribu rupiah setiap bulan.
  • Pajak Kendaraan, perpanjangan STNK, Asuransi Kendaraan Pengeluaran ini juga penting karena nilainya biasanya lumayan. Sering kali orang lupa dan pada saatnya jatuh tempo maka terpaksa mengorbankan budget lainnya. Padahal jika direncanakan dengan baik hal itu tak akan terjadi.

Setelah melakukan penyusunan, budget Anda mungkin akan terlihat seperti ini:

Sample-budget

Bagaimana menurut Anda, tidak terlalu sulit bukan? Dengan membuat budgeting seperti ini, Anda akan mulai menyadari seberapa besar pengeluaran untuk masing-masing pos. Jika dana Anda tidak bisa memenuhi semuanya, maka saatnya menentukan prioritas sesuai tingkat kebutuhan dan kepentingannya masing-masing.

Sumber : www.muhammadnoer.com/

Membeli rumah dengan KPR Bank

Sudahkah anda memiliki rumah? masih mengontrak? atau masih tinggal dengan orang tua atau mertua? Sebenarnya sah-sah saja kalau anda belum memiliki rumah idaman. Nasib anda tidaklah terhitung malang, karena jutaan orang masih banyak yang belum mempunyai rumah atau memikirkan untuk berani memiliki rumah. Wajar saja harga rumah memang masih mahal, sedangkan gaji kita hanya cukup untuk makan saja plus kebutuhan standar lainnya. Lalu bagaimana solusinya?

Membeli rumah dengan KPR ! Kredit Kepemilikan Rumah. Semudah itukah solusinya? tentunya tidak. Mengapa? Karena sebelum kita memutuskan untuk membeli rumah dengan fasilitas KPR Bank, kita perlu mengkalkulasikan biaya apa saja yang harus dipersiapkan, selain kemampuan angsuran bulanan yang sudah kita perhitungkan terlebih dahulu.
Berikut beberapa hal yang perlu kita persiapkan :
1.Uang Tanda Jadi, biasanya bila kita akan membeli rumah lewat pengembang kita diminta untuk menyerahkan uang tanda jadi sebagai bukti kita telah memesan. Uang tersebut sebagai bukti keseriusan kita akan komit segera membayarkan uang muka rumah sesuai yang dipersyaratkan pengembang. Uang Tanda Jadi berpotensi hangus atau hilang bila waktu yang dipersyaratkan untuk menyerahkan Uang Muka rumah tidak kita realisasikan sesuai kesepakatan dengan pengembang.
2.Uang Muka (Down Payment /DP), uang muka ini biasanya dipersyaratkan oleh pihak pengembang. Besaran uang muka ini besarannya sangat relatif, namun umumnya antara 10% sampai 20%. Artinya Bank nantinya akan memberikan nilai kreditnya sebesar kekurangannya atau 90% dari harga jual rumah.
3.Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Sesuai dengan pasala 5 UU Nomor 21/1997, tarif pajak BPHTB adalah 5% dari nilai perolehan objek kena pajak (NPOKP). NPOKP adalah nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) dikurangi dengan nilai Perolehan Tidak Kena Pajak (NPOPTKP).
4.Akta Jual Beli (AJB). AJB diperlukan ketika proses mengurus Sertifikat. AJB merupakan bukti autentik secara hukum bahwa kita telah membeli tanah atau bangunan secara lunas.
5.Bea Balik Nama (BBN). Biaya ini untuk proses balik nama sertifikat properti dari penjual ke pembeli. Untuk rumah yang dibeli dari pengembang, BBN biasanya sudah diurus oleh pengembang dan kita tinggal membayarnya saja.
6.Provisi. Saat membeli rumah dengan KPR, kita akan dikenai biaya provisi oleh Bank. Biasanya sekitar 1% namun terkadang tergantung ketentuan bank tersebut.
7.Asuransi. Selama belum lunas, rumah dengan kata lain masih menjadi milik bank. Untuk itu bank ingin rumahnya aman dari kebakaran dan bank ingin angsuran kita tetap lancar. Untuk itu Asuransi Kebakaran dan Asuransi Kredit Jiwa wajib kita siapkan biaya preminya.
8.Akta Pemebrian Hak Tanggungan (APHT). Akta ini adalah pemasangan sementara kepemilikan bank atas nama kepemilikan properti kita. APHT akan berakhir ketika kita telah  memohon kepada Badan Pertanahan Negara, untuk melepaskan kepemilikan Bank sehubungan dengan telah lunasnya hutang kita terhadap bank. Surat Bukti Lunas dan Surat Roya, merupakan dokumen yang kita bawa ke BPN bila kita akan melepaskan APHT.
9.Biaya Materai, biaya administrasi
Sumber:yusufarif.blogspot.com/

Cara Menjadi Kaya

Dicopy Minggu,26 Februari 2012

 

Pertanyaan pertama :
siapa yang MAU menjadi kaya ?
Semua orang pasti akan angkat tangan.

Pertanyaan kedua :
siapa yang BERUSAHA untuk menjadi kaya ?
Hanya sebagian saja yang angkat tangan

Pertanyaan ketiga :
Siapa yang SUDAH kaya ?
Jumlah yang angkat tangan lebih sedikit lagi.

Apa yang salah disini ?

Pada pertanyaan pertama, orang hanya ditawari saja suatu keadaan.
Tidak sulit, karena mereka tinggal bilang mau atau tidak. Pada
pertanyaan kedua, sudah menjurus ke tindakan yang akan anda lakukan
untuk mencapai pertanyaan pertama tersebut. Disini orang yang
menjawab positif tidak sebanyak di pertanyaan pertama. Bermacam-macam
penyebabnya. Mengapa ? Orang mau kaya secara cepat, kalau bisa secara
instan tanpa perlu bekerja keras. Alasan kedua, mereka mau bekerja
keras, tapi `not in the right track’ sehingga kerja keras
mereka tidak membuahkan hasil sesuai yang mereka harapkan.
Alasan ketiga, mereka tidak tahu, harus mulai darimana. alasan
terakhir, mereka merasa cukup hidup yang biasa-biasa saja, tidak
perlu terlalu ambisius. “Ora usah ngoyo”, begitu kata orang
Jawa. Pada pertanyaan ketiga adalah pada hasil, apakah hasil kerja
anda di pertanyaan kedua membuahkan hasil yang memuaskan. Hanya orang
yang  sudah berhasil di pertanyaan kedua yang bisa ikut angkat tangan
disini. Sebenarnya, gimana sih cara untuk menjadi kaya, terutama
secara mudah kalau bisa ?

Ada beberapa cara lain untuk kaya secara mudah. Yang pertama adalah
lahir sebagai anak orang kaya. Jadi berbahagialah anda yang lahir
dengan nama belakang Onassis, Walton, atau Rockeffeler. Karena begitu
lahir anda cukup angkat tangan untuk menjawab pertanyaan ketiga saja.
Bahkan Robert Kiyosaki, dalam salah satu seminarnya pernah
mengatakan, pada waktu kecil dia berharap nama keluarganya bukan
Kiyosaki, namun Kawasaki. Yang kedua adalah kawin dengan anak orang
kaya. Namun apabila anda sudah menikah dan tidak
mendapatkan `kesempatan’ ini, anda bisa dengan cara ketiga,
yaitu mempunyai menantu orang kaya. Masih ada beberapa cara lagi,
namun yang berikut ini lebih mengandalkan dewi fortuna, misalnya anda
menang undian, atau dapat warisan mendadak dari keluarga anda. Kalau
dari semua cara instan tersebut anda tidak berhasil, berarti anda
memang harus menggapainya melalui jalur kerja keras.

Di dalam buku pemasaran klasik “Horse Sense” karya Jack Trout
dan Al Ries, dikatakan disana ada 3 cara untuk menjadi kaya secara
instan, yaitu (1) marry a rich person, (2) steal in nice, legal way;
or (3) get to know the right people.

Cara ketiga ini yang menarik. Bertemu dengan orang yang tepat. Kerja
keras (hard work) saja tidak menjamin orang menjadi kaya. Perlu juga
diimbangi dengan kerja cerdas (smart work). Robert Kiyosaki termasuk
beruntung bertemu dengan orang yang tepat, yaitu `Rich
Dad’nya. Orang yang tepat adalah orang yang bersedia menjadi
mentor kita, serta mau membimbing kita. Tentunya dia sendiri juga
sudah kaya, jadi bimbingan yang diberikan bukan cuma teori doang,
tapi pengalaman. Pengalaman itu mahal harganya, karena dengan belajar
dari pengalaman orang lain anda akan terhindar dari `lubang
jebakan’ kegagalan. Dengan adanya mentor, proses anda akan lebih
cepat daripada jalan sendiri.

Nah, dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti apa sih orang yang
tepat itu ? Tidak mudah memang menemukan orang yang tepat. Kalaupun
misalnya anda sudah ketemu dengan orangnya, belum tentu juga dia mau
membimbing anda. `Orang’ yang tepat tidaklah selalu
membimbing anda secara langsung, bisa juga teknik, system, prinsip,
kisah sukses orang lain, tokoh idola, maupun suatu kebijaksanaan
(wisdom). Tidak usah berpikir terlalu rumit, mulailah dari sekitar
anda saja. Adakah suatu kebijakan atau seseorang yang sudah sukses
yang bisa anda contoh ? Kalau ada, cobalah untuk mengamati bagaimana
proses yang dia lakukan selama ini.

Lalu bagaimana mengetahui bahwa prinsip atau mentor yang akan kita
contoh itu tepat ? Just Do It, seperti kata Nike. Lakukan saja.
Lakukan ini semua secara fleksibel, artinya jika satu mentor tidak
sesuai dengan anda cobalah cari mentor lain. Jangan pula takut gagal,
karena kita akan lebih banyak belajar dari kegagalan daripada
keberhasilan. Tidak ada pula aturan yang melarang anda mempunyai
beberapa mentor / prinsip sekaligus. Mungkin dengan merangkum
kebijakan-2 tersebut, anda bisa menciptakan suatu prinsip baru yang
sesuai dengan anda.

Sukses untuk anda !

Sumber:- Sonny V. Sutedjo –
(Artikel pernah dimuat di Majalah Pengusaha Sep 2003)

Kiat Menyiapkan Biaya Pendidikan

Biaya Pendidikan Naik 20% Setahun, Siapkan Sejak Dini!

PARA pakar perencanaan sering bilang bahwa pendidikan merupakan investasi terpenting dalam hidup setiap orang. Masalahnya, ongkos pendidikan semakin melangit saban tahun. Menurut hitungan para perencana keuangan, biaya pendidikan di negeri ini rata-rata meningkat sekitar 15%–20% per tahun. Angka ini lebih dari dua kali lipat rata-rata kenaikan inflasi. Makanya, merencanakan biaya pendidikan anak sejak dini merupakan hal penting kalau tak ingin tergopoh-gopoh saat harus membayar. Sebagai orangtua yang baik, sepantasnya Anda merencanakan dengan matang biaya sekolah anak. Nah, apa saja yang perlu Anda persiapkan?

Pertama, tentukan target kebutuhan dana pendidikan. Menurut Eko Endarto, perencana keuangan dari Finansia Consulting, sejak anak lahir ke dunia, orangtua pasti sudah bisa memperkirakan pada usia berapa si anak akan masuk TK, SD, SMP, dan perguruan tinggi. Nah, cari informasi berapa biaya pendidikan saat ini atas setiap jenjang pendidikan tersebut. Berdasarkan informasi itu, kita bisa memperkirakan kebutuhan dana buat sang anak kelak. Ambil contoh, biaya masuk SD saat ini Rp 6 juta, sementara anak Anda baru akan masuk SD empat tahun mendatang. Dengan asumsi kenaikan ongkos pendidikan sebesar 20% per tahun, berarti saat dia masuk SD nanti, Anda harus menyiapkan dana sekitar Rp 12,5 juta. “Perhitungan ini penting supaya Anda tidak gelagapan nantinya,” kata Eko.

Setelah menentukan target kebutuhan dana, langkah kedua adalah memastikan cara mencapai target tersebut. Banyak pilihan yang bisa dilakukan. Menurut perencana keuangan Safir Senduk, salah satu cara menyiapkan dana pendidikan anak adalah lewat investasi aset seperti tanah. Namun, investasi ini hanya cocok untuk jangka panjang. “Kelemahan lain, tanah tidak selalu mudah untuk dijual kembali,” papar dia. Untuk kebutuhan dalam jangka pendek, Safir menyarankan Anda berinvestasi secara bertahap. Misalnya, lewat produk tabungan pendidikan.

Ada beberapa keunggulan tabungan pendidikan ini. Selain suku bunga yang umumnya lebih tinggi daripada tabungan biasa, produk ini juga memiliki fasilitas asuransi jiwa. Dengan begitu, kalau orangtua kehilangan penghasilan karena kematian, kecelakaan, atau sakit parah, dana pendidikan anak sudah terproteksi. “Ini salah satu keunggulan tabungan pendidikan,” kata Direktur Konsumer PT Bank Bukopin Tbk Lamira S. Parwedi. Eko menyarankan orangtua menyisihkan 20% dari pendapatan setiap bulan untuk investasi di tabungan pendidikan. Meski begitu, menurut Eko, investasi di tabungan pendidikan ini cuma cocok dipakai menyiapkan dana sekolah anak sampai bangku SD. Sedangkan untuk kebutuhan dana pendidikan dalam jangka panjang, misalnya lebih dari 10 tahun, Safir Senduk menyarankan supaya alokasi dana pendidikan dialihkan ke produk keuangan lain yang memberikan imbal hasil lebih tinggi. Setidaknya, produk investasi tersebut bisa memberikan imbal hasil minimal sama dengan kenaikan biaya sekolah anak per tahun. Contoh instrumen yang ideal adalah investasi di produk reksadana, saham, atau emas batangan.

(Diambil dari tulisan Edisi Khusus KONTAN Mei 2010)